dua garis yang menempel di alat itu
dari air seni ibu pertanda kehadiranmu
sejak itu setiap detik menjadi asa
jadilah engkau hamba berguna
bagi yang kerabat maupun handai taulan
untuk yang tersekat juga terpinggirkan
setelah tangismu reda coba kau lebarkan telinga
betapa banyak bayi yang menangis karena susu ibunya tak ada rasa
rasa susu bayi-bayi itu telah dibawa pergi
oleh para penjaja janji yang dijual murah lima tahun sekali
maka bersyukurlah kau jadi anakku
yang masih mampu menaruh rasa di air susu ibumu
kemayoran - tasikmalaya, juni 2011
Selasa, 28 Juni 2011
Sabtu, 30 April 2011
Sajak-sajak Pendek Lagi
1. Kertas
di atas hamparan luas
kawanan kata dihempas
berharap makna terkelupas
kemudian lepas bebas
di atas hamparan luas
kawanan kata dihempas
berharap makna terkelupas
kemudian lepas bebas
4. Tidur
mari kita tidur
sebenar-benarnya tidur
leluasa mendengkur
tiada ngelindur
3. Bujangan
aku yang sendiri sering mengusir
ampas kopi yang beku di dasar cangkir
agar pahitnya kembali hadir
menemani liarku di alam pikir
Jakarta, 2010
Senin, 11 April 2011
Credit Card
kartu dijejalkan gesek dilicinkan
gengsi ditinggikan pamor diterangkan
ingat dilalaikan hutang digunungkan
bayar dilunglaikan cicil dibengkakkan
tempo dilewatkan bogem dicecapkan
jakarta, april ‘11
gengsi ditinggikan pamor diterangkan
ingat dilalaikan hutang digunungkan
bayar dilunglaikan cicil dibengkakkan
tempo dilewatkan bogem dicecapkan
jakarta, april ‘11
Sabtu, 09 April 2011
Luka
di sini lukamu menjadi ratapku
ratapku tak usah kau cumbu
di sini airmata melumuri warta
warta menganaksungaikan airmata
di sini luka dan airmata menjadi citarasa
citarasa yang disukai semua
Jakarta, 05 Desember 2010
di sini airmata melumuri warta
warta menganaksungaikan airmata
di sini luka dan airmata menjadi citarasa
citarasa yang disukai semua
Jakarta, 05 Desember 2010
Kamis, 07 April 2011
Diksi-diksi Basi
kerap kucari diksi
guna menyesaki sejuntai puisi
kususuri sepanjang istilah terpajang
biarpun keranjangku berlubang
meratapi sedih nan mendidih
melumuri diri merah getih
berkawan pada awan dan hujan
coba akrabi halilitar
melawan sekawanan lawan
biarpun diselimuti gentar
mengarungi samudera seluas gelas
menyelami lautan sedalam kolam
berbekal bebal, bernafas seutas
mengais pepasir di pesisir
menjumput maut
dari merapi nan berapi-api
wedus gembel ora tau adhus
memanen tsunami
aceh, nias, mentawai
mengundang bandang
wasior,…
hutan-hutan gundul
menamai jasad-jasad tak dikenal
pun nyawa-nyawa tak berharga
dari kematian nan nian
melipat tragedi di penjuru negeri
menelanjangi para petinggi
hingga diri sendiri
korupsi, aspirasi, hak azasi
dasi, nasi, terasi, basi
hukuman mati, hukum mati
markus, kakus, tikus
gayus?
dimana jaksa, hakim, polisi?
presiden, parlemen, cemen
preman pasar dan terminal
perempuan-perempuan
sholeha, binal
juru parkir, jutawan-jutawan kikir
mengritisi lsm-lsm mingkem melempem
mengupas ormas-ormas beringas
kitab suci, kepercayaan, perdebatan, ulasan
menonton pertandingan bola
penonton saling lempar umpatan, caci maki
pemain saling umpan bogem mentah
wasit berdarah-darah
pelajar, mahasiswa, warga
kejar-kejaran, tawuran
batu bata, senpi, parang, wajah garang
semua berbunyi sama serupa rima
lari sembunyikan diri
di semak-semak sajak
aku menyelinap menjelma diksi
lebur meresap ke tanah gembur subur
adil makmur?
berhenti di liang kubur…
Jakarta, 09 Oktober 2010
guna menyesaki sejuntai puisi
kususuri sepanjang istilah terpajang
biarpun keranjangku berlubang
meratapi sedih nan mendidih
melumuri diri merah getih
berkawan pada awan dan hujan
coba akrabi halilitar
melawan sekawanan lawan
biarpun diselimuti gentar
mengarungi samudera seluas gelas
menyelami lautan sedalam kolam
berbekal bebal, bernafas seutas
mengais pepasir di pesisir
menjumput maut
dari merapi nan berapi-api
wedus gembel ora tau adhus
memanen tsunami
aceh, nias, mentawai
mengundang bandang
wasior,…
hutan-hutan gundul
menamai jasad-jasad tak dikenal
pun nyawa-nyawa tak berharga
dari kematian nan nian
melipat tragedi di penjuru negeri
menelanjangi para petinggi
hingga diri sendiri
korupsi, aspirasi, hak azasi
dasi, nasi, terasi, basi
hukuman mati, hukum mati
markus, kakus, tikus
gayus?
dimana jaksa, hakim, polisi?
presiden, parlemen, cemen
preman pasar dan terminal
perempuan-perempuan
sholeha, binal
juru parkir, jutawan-jutawan kikir
mengritisi lsm-lsm mingkem melempem
mengupas ormas-ormas beringas
kitab suci, kepercayaan, perdebatan, ulasan
menonton pertandingan bola
penonton saling lempar umpatan, caci maki
pemain saling umpan bogem mentah
wasit berdarah-darah
pelajar, mahasiswa, warga
kejar-kejaran, tawuran
batu bata, senpi, parang, wajah garang
semua berbunyi sama serupa rima
lari sembunyikan diri
di semak-semak sajak
aku menyelinap menjelma diksi
lebur meresap ke tanah gembur subur
adil makmur?
berhenti di liang kubur…
Jakarta, 09 Oktober 2010
Kamis, 31 Maret 2011
Ilham
hasratku terjaga
kucumbui kau seketika
aku tenggelam di lautmu
aku melayang di angkasamu
jakarta, maret '11
sajak ini telah diposkan di situseni
kucumbui kau seketika
aku tenggelam di lautmu
aku melayang di angkasamu
jakarta, maret '11
sajak ini telah diposkan di situseni
Selasa, 01 Maret 2011
Akankah Rindu dan Cinta Terlukis Apa Adanya
Kita telah kerap melukis rindu dan cinta
dengan corak dan warna berbeda beda
juga sentuhan dan goresan tak sama
melewati perasaan dan suasana jiwa diri kita.
Tetapi pernahkah kita melukis rindu dan cinta
disaat perut sedang hampa
bersamaan uang di saku tak ada
atau ketika dihampiri nestapa?
Di benakku tertempel sehelai tanya,
akankah rindu dan cinta terlukis apa adanya
dengan corak dan warna berbeda beda
juga sentuhan dan goresan tak sama
melewati perasaan dan suasana jiwa diri kita.
Tetapi pernahkah kita melukis rindu dan cinta
disaat perut sedang hampa
bersamaan uang di saku tak ada
atau ketika dihampiri nestapa?
Di benakku tertempel sehelai tanya,
akankah rindu dan cinta terlukis apa adanya
bila diri lara?
Jakarta, nov '09 - feb '11
Erosi Jiwa
tak mungkin Ia keliru
meniupkan jiwa beserta perilaku
pada raga yang tak baku
lalu siapakah dia
pria yang tak ingin menjadi pria
atau wanita beraga pria
mungkinkah sebuah kodrat
atau malah sebuah amanat
bagi kaum yang sehat
tapi bila maksiat
sudah pasti itu laknat
berusaha untuk membela diri
bersama kawula hak azasi
keseharian begitu dinikmati
kontes menjadi ajang penegasan eksistensi
atau malah penjerumusan diri
lebih dalam lagi
akankah sadar atau kian lupa diri
jakarta, 26 des '09
meniupkan jiwa beserta perilaku
pada raga yang tak baku
lalu siapakah dia
pria yang tak ingin menjadi pria
atau wanita beraga pria
mungkinkah sebuah kodrat
atau malah sebuah amanat
bagi kaum yang sehat
tapi bila maksiat
sudah pasti itu laknat
berusaha untuk membela diri
bersama kawula hak azasi
keseharian begitu dinikmati
kontes menjadi ajang penegasan eksistensi
atau malah penjerumusan diri
lebih dalam lagi
akankah sadar atau kian lupa diri
jakarta, 26 des '09
Senin, 28 Februari 2011
Apakah?
laah...
rekah rindukah,
bongkah batukah,
ataukah salah memanah?
mungkinkah arwah dibelah?
aah...
apakah gerah gairah
di tengah getah merah,
patah tanah,
darah tumpah?
waah...
cintakah,
pedulikah,
pamrihkah?
apakah amarah telah lelah?
haah...
wajah siapakah wajah dibawah wajah?
laa haula walaa quwwata illa billaah...
kemayoran, 09042010
rekah rindukah,
bongkah batukah,
ataukah salah memanah?
mungkinkah arwah dibelah?
aah...
apakah gerah gairah
di tengah getah merah,
patah tanah,
darah tumpah?
waah...
cintakah,
pedulikah,
pamrihkah?
apakah amarah telah lelah?
haah...
wajah siapakah wajah dibawah wajah?
laa haula walaa quwwata illa billaah...
kemayoran, 09042010
Jumat, 25 Februari 2011
Bis Kota
pagi
: mengantar pergi menjemput nafkah
sore
: membawa kembali lelah ke rumah
pagi ditunggu
sore dirindu
pagi sore selalu
di sebuah bis kota di tengah kemacetan di jalan gunung sahari, 30 April 2010
: mengantar pergi menjemput nafkah
sore
: membawa kembali lelah ke rumah
pagi ditunggu
sore dirindu
pagi sore selalu
di sebuah bis kota di tengah kemacetan di jalan gunung sahari, 30 April 2010
Selasa, 22 Februari 2011
Berhitung
berhitung mulai!
satu, kantongku masih lunglai
dua, bertebaran aroma bangkai
tiga, jangan dekat pantai
empat, putuskan mata rantai
…
2010
satu, kantongku masih lunglai
dua, bertebaran aroma bangkai
tiga, jangan dekat pantai
empat, putuskan mata rantai
…
2010
Senin, 21 Februari 2011
Digoda Sajak
awal cerita di tata almanak, sajak mampir sejenak
menawarkan rancu di beranda sukaku
tentu tegas aku menolak oleh ketidakpahamanku
di lain luang sajak kembali bertandang
memamerkan sepohon indah nan rindang
selerakupun sedikit terangsang
dan seiring waktu, sajak kian rajin menyelinap ke setiap inderaku.
kini sajak tak lagi risih
genit mencubit di riuh rerintih,
gemulai menari di atas genangan getih,
menembangkan pilu terdengar merdu,
menuturkan derita tiada terbata,
mengisahkan lakon curang amat tenang.
aku renyah mengunyah semua kisah,
belajar tega menadah airmata para lara,
dan bernafsu meramu kata menjadi pelupa duka.
ah...sajak,
pekaku kau injak injak
hingga akupun merasa enak.
kemayoran, 26-01-'10
menawarkan rancu di beranda sukaku
tentu tegas aku menolak oleh ketidakpahamanku
di lain luang sajak kembali bertandang
memamerkan sepohon indah nan rindang
selerakupun sedikit terangsang
dan seiring waktu, sajak kian rajin menyelinap ke setiap inderaku.
kini sajak tak lagi risih
genit mencubit di riuh rerintih,
gemulai menari di atas genangan getih,
menembangkan pilu terdengar merdu,
menuturkan derita tiada terbata,
mengisahkan lakon curang amat tenang.
aku renyah mengunyah semua kisah,
belajar tega menadah airmata para lara,
dan bernafsu meramu kata menjadi pelupa duka.
ah...sajak,
pekaku kau injak injak
hingga akupun merasa enak.
kemayoran, 26-01-'10
Selasa, 15 Februari 2011
Lemari Es
/1/
mari dinginkan impian agar awet meski usia memakan
karena di sini terlalu sukar mewujudkan impian
oleh banyak kelok tajam di jalan
dan amat mahal harga yang harus dibayarkan.
baikkah bila cita-cita dibekukan
lantaran uang adanya di bulan?
/2/
mari bandingkan isi lemari es dengan menu yang jelata makan
empat sehat lima sempurna sekedar anjuran
tapi bagaimana mendapatkan jarang disosialisasikan.
kesempatan yang dijanjikan hanya penantian,
-yang tak kunjung berhenti.
nasehat tentang gizi jadi tontonan sehari-hari
karena penghasilan cuma cukup untuk beli nasi
lauk pauk soal nanti yang pentig perut terisi
sebab hari-hari mesti diecapi...
/3/
perlihatkan isi lemari es milikmu kepadaku
agar aku berselera menelan ludahku
dengan membayangkan nikmat itu
andai aku berkesempatan menyantap
-isi lemari es milikmu,
barulah aku akan memintamu
untuk sisa-sisa makananmu
untuk mengganjal perutku...
/4/
menyimpan aneka selera
membusuk karena serakah
yang lewat rongga sama saja,
-menjijikan.
jakarta, 19 nov 2009
mari dinginkan impian agar awet meski usia memakan
karena di sini terlalu sukar mewujudkan impian
oleh banyak kelok tajam di jalan
dan amat mahal harga yang harus dibayarkan.
baikkah bila cita-cita dibekukan
lantaran uang adanya di bulan?
/2/
mari bandingkan isi lemari es dengan menu yang jelata makan
empat sehat lima sempurna sekedar anjuran
tapi bagaimana mendapatkan jarang disosialisasikan.
kesempatan yang dijanjikan hanya penantian,
-yang tak kunjung berhenti.
nasehat tentang gizi jadi tontonan sehari-hari
karena penghasilan cuma cukup untuk beli nasi
lauk pauk soal nanti yang pentig perut terisi
sebab hari-hari mesti diecapi...
/3/
perlihatkan isi lemari es milikmu kepadaku
agar aku berselera menelan ludahku
dengan membayangkan nikmat itu
andai aku berkesempatan menyantap
-isi lemari es milikmu,
barulah aku akan memintamu
untuk sisa-sisa makananmu
untuk mengganjal perutku...
/4/
menyimpan aneka selera
membusuk karena serakah
yang lewat rongga sama saja,
-menjijikan.
jakarta, 19 nov 2009
Minggu, 13 Februari 2011
Air Mantra
siapakah yang menyebut diri sebagai buaya
binatang melata lambang pendusta
dengan telunjuk dan jari tengah
ia mengangkat sepotong sumpah
semudah meludah di wadah sampah
sembari melelehkan air mantra
demi tetap tersemat selendang citra
namun itu terbaca sebagai tanda
setiap prasangkapun kian percaya
bahwa buaya sungguh pendusta
tak lama kemudian baginda menghardiknya
agar enyah dari tempat duduknya
jakarta, des 2009
binatang melata lambang pendusta
dengan telunjuk dan jari tengah
ia mengangkat sepotong sumpah
semudah meludah di wadah sampah
sembari melelehkan air mantra
demi tetap tersemat selendang citra
namun itu terbaca sebagai tanda
setiap prasangkapun kian percaya
bahwa buaya sungguh pendusta
tak lama kemudian baginda menghardiknya
agar enyah dari tempat duduknya
jakarta, des 2009
Jumat, 11 Februari 2011
Nasi Telah Menjadi Lulur
: para demonstran murni
sebungkus nasi telah menjadi lulur
untuk kulit kusam para demonstran yang terjemur
bersemangat untuk transparansi yang kian mengabur
dan kekhawatiran akan keleluasaan yang hendak dikubur
nampaknya cita cita luhur tak diizinkan menjadi mabrur
jalan kata dan nafas mulai dipersempit serapat dubur
sementara asap semakin jarang mengepul dari setiap dapur
sebab air hampir tandas di setiap sumur
inikah gambaran negeri yang adil makmur?
sekuntum negeri idaman para leluhur
jakarta, 24 desember 2009
sebungkus nasi telah menjadi lulur
untuk kulit kusam para demonstran yang terjemur
bersemangat untuk transparansi yang kian mengabur
dan kekhawatiran akan keleluasaan yang hendak dikubur
nampaknya cita cita luhur tak diizinkan menjadi mabrur
jalan kata dan nafas mulai dipersempit serapat dubur
sementara asap semakin jarang mengepul dari setiap dapur
sebab air hampir tandas di setiap sumur
inikah gambaran negeri yang adil makmur?
sekuntum negeri idaman para leluhur
jakarta, 24 desember 2009
Kamis, 10 Februari 2011
Mengayak Hujan
heem...,
mampukah aku memunguti arti hujan?
di ruah curahnya
dari murung mendungnya
lewat nyaring lengkingnya.
berjuta hujan telah kujumpai
dari tetitik rintik hingga deras peras
namun belum pernah kutemui
makna dan warna yang memaras
dahulu aku melulu menyibak lebat juntainya
sengaja melumpuri kaki sambil lari kesana kemari
bertelanjang di ruang lapang
sekedar untuk derai masa kekanak
biarpun gigil menanak
dan tak peduli sesungut emak
kini, kala jiwa gemar meliar
lagi, ingin kuulangi permainan hujan yang hanya sebentar
sesama sebaya saling kejar
di tanah yang melumpur oleh air halilintar
dengan harapan kutemukan
sekuntum harum ranum misteri di riuh caci maki
yang tertumpah dari awan di ketinggian
bila tak ada, haruskah diri putus asa,
mencari yang menjadi kehendak hati?
lalu,
: dari mana datang bandang yang memporandakan perkampungan?
: mengapa bebukit seketika bangkit lantas menggigit rerumah dan sesawah?
: dari mana asal usul musibah dan wabah yang sering saling susul?
sementara,
di belahan lain malah timbul syukur yang meletup letup
setelah sekian lama pintu rizki seolah ditutup
kerontang yang membentang mulai menghilang
serentak giat mengolah liat
lalu gigih menabur benih
di tanah tanah basah
demi kebutuhan yang enggan ditahan
sembari tekun memohon kepada Tuhan
agar tak lekas mengemas musin hujan.
di diriku
segenggam keyakinan terbalut sehelai bimbang
dari kelam awan dan di derai rindang
sanggupkah kuayak hujan yang bertandang?
kemayoran, 20012010
mampukah aku memunguti arti hujan?
di ruah curahnya
dari murung mendungnya
lewat nyaring lengkingnya.
berjuta hujan telah kujumpai
dari tetitik rintik hingga deras peras
namun belum pernah kutemui
makna dan warna yang memaras
dahulu aku melulu menyibak lebat juntainya
sengaja melumpuri kaki sambil lari kesana kemari
bertelanjang di ruang lapang
sekedar untuk derai masa kekanak
biarpun gigil menanak
dan tak peduli sesungut emak
kini, kala jiwa gemar meliar
lagi, ingin kuulangi permainan hujan yang hanya sebentar
sesama sebaya saling kejar
di tanah yang melumpur oleh air halilintar
dengan harapan kutemukan
sekuntum harum ranum misteri di riuh caci maki
yang tertumpah dari awan di ketinggian
bila tak ada, haruskah diri putus asa,
mencari yang menjadi kehendak hati?
lalu,
: dari mana datang bandang yang memporandakan perkampungan?
: mengapa bebukit seketika bangkit lantas menggigit rerumah dan sesawah?
: dari mana asal usul musibah dan wabah yang sering saling susul?
sementara,
di belahan lain malah timbul syukur yang meletup letup
setelah sekian lama pintu rizki seolah ditutup
kerontang yang membentang mulai menghilang
serentak giat mengolah liat
lalu gigih menabur benih
di tanah tanah basah
demi kebutuhan yang enggan ditahan
sembari tekun memohon kepada Tuhan
agar tak lekas mengemas musin hujan.
di diriku
segenggam keyakinan terbalut sehelai bimbang
dari kelam awan dan di derai rindang
sanggupkah kuayak hujan yang bertandang?
kemayoran, 20012010
Rabu, 09 Februari 2011
Melepas Istri
aku menyerah.
kau pergilah
dengan gegas dan beban lepas,
dariku karena kau tak lagi merasa puas.
tak usah kau kenang lagi saat kita berdua menarikan kuas
memulas alas anak kita untuk berpulas.
sesekali saja pulang untuk rindu yang hendak kau hempas
pada anak kita yang berkulit seputih kapas.
kau memang punya cukup trengginas sehingga kau bersikeras
hendak mengadu nasib di lautan cahaya bias.
sering kau menghardikku lelaki pemalas.
memang di dapur kita jarang ada beras, lauk pauk apalagi daging unggas,
tapi bukan berarti aku pemalas.
mungkin rejekilah yang mesti dijemput lebih keras.
bagi keluarga kita matahari teriknya amat panas
dan hidup begitu buas
maka keringat mesti sampai tandas diperas.
kepala di bawah dan kaki di atas
kugeluti agar keluarga kita, biarpun tersengal tetap bisa bernafas.
dari subuh hingga sinar hari lepas tekun aku memilah-pilah ampas
kukumpulkan pula apapun yang berjuluk bekas
demi harga yang kian melangit juga nilai di lembar-lembar kertas.
tak adakah satu pun di ibamu yang membekas?
semua seperti tersapu hujan deras
karena pada akhirnya anak kita menangis keras
dan aku hanya mampu termangu di teras...
kemayoran, 23022010
kau pergilah
dengan gegas dan beban lepas,
dariku karena kau tak lagi merasa puas.
tak usah kau kenang lagi saat kita berdua menarikan kuas
memulas alas anak kita untuk berpulas.
sesekali saja pulang untuk rindu yang hendak kau hempas
pada anak kita yang berkulit seputih kapas.
kau memang punya cukup trengginas sehingga kau bersikeras
hendak mengadu nasib di lautan cahaya bias.
sering kau menghardikku lelaki pemalas.
memang di dapur kita jarang ada beras, lauk pauk apalagi daging unggas,
tapi bukan berarti aku pemalas.
mungkin rejekilah yang mesti dijemput lebih keras.
bagi keluarga kita matahari teriknya amat panas
dan hidup begitu buas
maka keringat mesti sampai tandas diperas.
kepala di bawah dan kaki di atas
kugeluti agar keluarga kita, biarpun tersengal tetap bisa bernafas.
dari subuh hingga sinar hari lepas tekun aku memilah-pilah ampas
kukumpulkan pula apapun yang berjuluk bekas
demi harga yang kian melangit juga nilai di lembar-lembar kertas.
tak adakah satu pun di ibamu yang membekas?
semua seperti tersapu hujan deras
karena pada akhirnya anak kita menangis keras
dan aku hanya mampu termangu di teras...
kemayoran, 23022010
Mimpi Seorang Penyair
menunggu pagi
seorang penyair melanjutkan mimpi
merebahkan pikir di tengah angan semilir
berharap ilham berkunjung lagi
kerap kelam berujung duri
lalu rakus meraup diksi
dan mengukus rima agar tak basi.
mimpi seorang penyair adalah syair
bukan bait bait beraroma anyir
tak apalah bila diwarnai sedikit sindir
siapa tahu yang tersindir lalu mau berpikir
untuk merubah peri dan laku
karena pada akhirnya setiap raga akan pergi dengan tandu.
...di dalam mimpi pagi itu
jasad si penyair terbaring di atas tandu
para pelayat riuh melagu...
kemayoran, 22012010
seorang penyair melanjutkan mimpi
merebahkan pikir di tengah angan semilir
berharap ilham berkunjung lagi
kerap kelam berujung duri
lalu rakus meraup diksi
dan mengukus rima agar tak basi.
mimpi seorang penyair adalah syair
bukan bait bait beraroma anyir
tak apalah bila diwarnai sedikit sindir
siapa tahu yang tersindir lalu mau berpikir
untuk merubah peri dan laku
karena pada akhirnya setiap raga akan pergi dengan tandu.
...di dalam mimpi pagi itu
jasad si penyair terbaring di atas tandu
para pelayat riuh melagu...
kemayoran, 22012010
Selasa, 08 Februari 2011
Menggali Sajak
mata otakku berkali-kali aku asah
agar mampu kugali sajak-sajakku yang dalamnya cuma sejengkal
namun kata-kata yang menyentuh mata otakku amat cadas
makna telah lebih dulu lepas sebelum otakku sempat kuhempas
selalu yang kudapati hanya seonggok gemas yang entah kapan menetas
sampai kapan aku mesti bekerja keras?
sedang otak telah sampai ampas kuperas.
(diam-diam aku rajin mengintip ke ladang tetangga)
kemayoran, 2010 - 2011
agar mampu kugali sajak-sajakku yang dalamnya cuma sejengkal
namun kata-kata yang menyentuh mata otakku amat cadas
makna telah lebih dulu lepas sebelum otakku sempat kuhempas
selalu yang kudapati hanya seonggok gemas yang entah kapan menetas
sampai kapan aku mesti bekerja keras?
sedang otak telah sampai ampas kuperas.
(diam-diam aku rajin mengintip ke ladang tetangga)
kemayoran, 2010 - 2011
Sabtu, 05 Februari 2011
A s a p
sudah sering terjadi semenjak proklamasi bahwa konstitusi merestui segala aksi dan demontrasi demi situasi negeri juga demi perut-perut tak berisi.
namun kata-kata cuma bisa kueja karena sebenarnya matahari tak 'kan sekalipun terbit di mulut goa.
sejengkal demi sejengkal kupijakkan kakiku yang terbebani bayi. gerimis tekun kunanti karena mimpi-mimpiku butuh dibasahi. hujan adalah salah satu mimpiku yang masih kering. di tanah ini dasi tumbur subur sekali.
aku tak bernyali bertamu ke rumah sebelah karena aku yakin sesuatu yang tak lumrah akan kudapati sebagai hidangan suguhan. setiap kali bertandang ke rumah kerabat selalu aku disuguhi air mendidih yang butuh waktu untuk mendinginkan sedang hausku sudah kian mencekik.
senda gurau semakin mengangakan lukaku. luka jiwa luka raga. luka mata luka telinga.
rerumputan tak sungkan lagi memanggil-manggil Tuhan demi perut-perut tak berisi, demi suguhan tak lumrah, dan demi air mendidih.
aku sendiri memadukan konstitusi, bayi, dasi, dan rerumputan agar serasi dipandang.
lalu apa yang dapat kugadang?
jakarta, 2010
puisi telah diposkan di Situseni
Langganan:
Postingan (Atom)