Minggu, 24 Juni 2012

Tak Lama Lagi

Tak lama lagi perabotan di sini akan saya pindahkan ke tempat yang baru
di sini

Silahkan tengok :)

Jumat, 02 Maret 2012

Senangnya

Senangnya aku kalau follower blog saya ini mau follow juga blog saya yang ini:
keripik kata

Sabtu, 24 Desember 2011

Pesan dari Wajahmu

matamu mengisyaratkan kejujuran
keningmu mengabarkan kesabaran

pipimu menjelaskan kesederhanaan
hidungmu menunjukkan keikhlasan

bibirmu menawarkan kehangatan


jakarta, november - desember 2011

Rabu, 16 November 2011

Pertanyaan Gelisahku Setelah Merampungkan Serajut Puisi

telah kurimai setiap diksi
usai kutenun serajut puisi

akan kuapakan indah perih ini?

tak kupeduli,

kusiram air mata lagi?
sekalian kuinjak-injak lagi

biar kudapat lagi
serajut puisi yang lebih perih


kemayoran, februari '10 - november '11

Selasa, 15 November 2011

Hari Raya Daging

gempita takbir mengingatkan para fakir akan kelezatan
yang telah setahun genap meninggalkan lidah

bila nasib baik berpihak
hari ini daging yang akan mereka dapat mungkin banyak

tapi biasanya mereka lebih memilih kenyang ketimbang kelezatan
maka kantong-kantong itu akan segera berpindah tangan


jakarta, 2009 - 2011

Senin, 10 Oktober 2011

Aku Sakit Lagi

:para sakit

...kembali
meriang garang memelukku
nyeri melingkari kepala,
punggung merengek linu,
pinggang mengeluh ngilu,
tak mau kalah merintih pula persendiaan.

dengan sisa tenaga yang tak seberapa
kusangga gumpal hasrat di tempurung
agar tak menimpah sisa jiwaku.

biar tak ambruk aku...


kemayoran, 09 feb 2010 - 10 okt 2011

Sabtu, 08 Oktober 2011

2014

Beberapa kali kalian juntaikan kesanggupan pada kami
Bila kami tandai foto kalian maka tempat kami akan kalian angkat
Dari gulma dan hama jadi tanaman utama
Dan sering  kami percaya

Kesanggupan yang kalian umpankan pada kami sungguh menyilaukan
Sebab kami tak pernah temukan cahaya gemerlap
Di tempat kami yang selalu gelap senyap pengap

Namun kalian tarik kembali dan simpan kesanggupan itu
Di saku jas sebelum memulainya sebab mata dan hati kalian lebih dulu silau
Oleh pendaran kenikmatan yang sedikit demi sedikit
Kalian rasakan di suasana baru yang lebih nyaman

Umpan telah menjerat kami tidak hanya di leher-leher
Bahkan pula selalu melukai mata dan hati kami

Ini 2014, saat dimana kesanggupan akan kembali kalian juntaikan
Kalian akan cari kami hingga ke belukar paling gelap senyap pengap
Bergulung-gulung kesanggupan kalian tebar agar kami keluar dan mendekati
Serupa hewan buruan atau ikan yang melihat makanan padahal umpan

Namun kini kami telah paham tabiat kalian
Ucapan kalian kerap meniadakan keberadaan kami
Coba kalian ulang tebar kesanggupan pasti akan kami abaikan
Kalian tak lebih dari pendusta yang cuma lihai bersilat lidah


Jakarta, April '11

Selasa, 04 Oktober 2011

Terang Bulan

di desa terang bulan amat dicinta
leleh cahayanya buat malam bercerita
cerita tentang siang penuh juang
muda-mudi giat petualang

di desa sinar bulan begitu didamba
sapu remang bikin temaram bergembira
gembira sebab malam penuh riang
kanak-kanak lepas senang

di desa bulan masih bermakna
setiap wajah memandang ceria


jakarta, mei 2011

Selasa, 05 Juli 2011

Semakin

semakin berusia semakin berdosa
bertambah uzur bertambah kufur

kian berkata kian berdusta
banyak omong banyak bohong

semakin bertambah semakin bedebah
kian banyak kian tamak


kemayoran, juni 2011

Selasa, 28 Juni 2011

A n a k

dua garis yang menempel di alat itu
dari air seni ibu pertanda kehadiranmu

sejak itu setiap detik menjadi asa
jadilah engkau hamba berguna

bagi yang kerabat maupun handai taulan
untuk yang tersekat juga terpinggirkan

setelah tangismu reda coba kau lebarkan telinga
betapa banyak bayi yang menangis karena susu ibunya tak ada rasa

rasa susu bayi-bayi itu telah dibawa pergi
oleh para penjaja janji yang dijual murah lima tahun sekali

maka bersyukurlah kau jadi anakku
yang masih mampu menaruh rasa di air susu ibumu


kemayoran - tasikmalaya, juni 2011

Sabtu, 30 April 2011

Sajak-sajak Pendek Lagi

1. Kertas

di atas hamparan luas
kawanan kata dihempas
berharap makna terkelupas
kemudian lepas bebas

4. Tidur

mari kita tidur
sebenar-benarnya tidur
leluasa mendengkur
tiada ngelindur


3. Bujangan

aku yang sendiri sering mengusir
ampas kopi yang beku di dasar cangkir
agar pahitnya kembali hadir
menemani liarku di alam pikir


Jakarta, 2010

Senin, 11 April 2011

Credit Card

kartu dijejalkan gesek dilicinkan
gengsi ditinggikan pamor diterangkan

ingat dilalaikan hutang digunungkan
bayar dilunglaikan cicil dibengkakkan

tempo dilewatkan bogem dicecapkan


jakarta, april ‘11

Sabtu, 09 April 2011

Luka

di sini lukamu menjadi ratapku
ratapku tak usah kau cumbu

di sini airmata melumuri warta
warta menganaksungaikan airmata

di sini luka dan airmata menjadi citarasa
citarasa yang disukai semua



Jakarta, 05 Desember 2010

Kamis, 07 April 2011

Diksi-diksi Basi

kerap kucari diksi
guna menyesaki sejuntai puisi
kususuri sepanjang istilah terpajang
biarpun keranjangku berlubang
meratapi sedih nan mendidih
melumuri diri merah getih
berkawan pada awan dan hujan
coba akrabi halilitar
melawan sekawanan lawan
biarpun diselimuti gentar
mengarungi samudera seluas gelas
menyelami lautan sedalam kolam
berbekal bebal, bernafas seutas
mengais pepasir di pesisir
menjumput maut
dari merapi nan berapi-api
wedus gembel ora tau adhus
memanen tsunami
aceh, nias, mentawai
mengundang bandang
wasior,…
hutan-hutan gundul
menamai jasad-jasad tak dikenal
pun nyawa-nyawa tak berharga
dari kematian nan nian
melipat tragedi di penjuru negeri
menelanjangi para petinggi
hingga diri sendiri
korupsi, aspirasi, hak azasi
dasi, nasi, terasi, basi
hukuman mati, hukum mati
markus, kakus, tikus
gayus?
dimana jaksa, hakim, polisi?
presiden, parlemen, cemen
preman pasar dan terminal
perempuan-perempuan
sholeha, binal
juru parkir, jutawan-jutawan kikir
mengritisi lsm-lsm mingkem melempem
mengupas ormas-ormas beringas
kitab suci, kepercayaan, perdebatan, ulasan
menonton pertandingan bola
penonton saling lempar umpatan, caci maki
pemain saling umpan bogem mentah
wasit berdarah-darah
pelajar, mahasiswa, warga
kejar-kejaran, tawuran
batu bata, senpi, parang, wajah garang
semua berbunyi sama serupa rima
lari sembunyikan diri
di semak-semak sajak
aku menyelinap menjelma diksi
lebur meresap ke tanah gembur subur
adil makmur?
berhenti di liang kubur…


Jakarta, 09 Oktober 2010

Kamis, 31 Maret 2011

Ilham

hasratku terjaga
kucumbui kau seketika
aku tenggelam di lautmu
aku melayang di angkasamu


jakarta, maret '11

sajak ini telah diposkan di situseni

Selasa, 01 Maret 2011

Akankah Rindu dan Cinta Terlukis Apa Adanya

Kita telah kerap melukis rindu dan cinta
dengan corak dan warna berbeda beda
juga sentuhan dan goresan tak sama
melewati perasaan dan suasana jiwa diri kita.

Tetapi pernahkah kita melukis rindu dan cinta
disaat perut sedang hampa
bersamaan uang di saku tak ada
atau ketika dihampiri nestapa?

Di benakku tertempel sehelai tanya,
akankah rindu dan cinta terlukis apa adanya
bila diri lara?


Jakarta, nov '09 - feb '11

Erosi Jiwa

tak mungkin Ia keliru
meniupkan jiwa beserta perilaku
pada raga yang tak baku

lalu siapakah dia
pria yang tak ingin menjadi pria
atau wanita beraga pria

mungkinkah sebuah kodrat
atau malah sebuah amanat
bagi kaum yang sehat
tapi bila maksiat
sudah pasti itu laknat

berusaha untuk membela diri
bersama kawula hak azasi
keseharian begitu dinikmati
kontes menjadi ajang penegasan eksistensi
atau malah penjerumusan diri
lebih dalam lagi
akankah sadar atau kian lupa diri


jakarta, 26 des '09

Senin, 28 Februari 2011

Apakah?

laah...
rekah rindukah,
bongkah batukah,
ataukah salah memanah?
mungkinkah arwah dibelah?

aah...
apakah gerah gairah
di tengah getah merah,
patah tanah,
darah tumpah?

waah...
cintakah,
pedulikah,
pamrihkah?
apakah amarah telah lelah?

haah...
wajah siapakah wajah dibawah wajah?

laa haula walaa quwwata illa billaah...



kemayoran, 09042010

Jumat, 25 Februari 2011

Bis Kota

pagi
: mengantar pergi menjemput nafkah

sore
: membawa kembali lelah ke rumah

pagi ditunggu
sore dirindu
pagi sore selalu



di sebuah bis kota di tengah kemacetan di jalan gunung sahari, 30 April 2010

Selasa, 22 Februari 2011

Berhitung

berhitung mulai!
satu, kantongku masih lunglai
dua, bertebaran aroma bangkai
tiga, jangan dekat pantai
empat, putuskan mata rantai
…


2010