Senin, 17 Januari 2011

Televisi 1

imajinasiku sibuk mengais sajak dari wajah datarnya
beragam gambar menjadi katanya
dari katanya lalu kususun untuk geram kupunya

mungkin geramku untuk kalian, juga aku sendiri
juga untuk anyir cair mengalir
oleh karena sebongkah amarah mudah pecah
tak lupa buat para penguasa pongah banyak tingkah

hampir setiap pagi kusempatkan menyimak suaranya
dan nyaris setiap sore kuluangkan membaca rautnya
suara dan raut yang selalu berubah ubah

dari lembut hingga bersungut
dari lemah hingga amarah
dari senyuman hingga tangisan
dari kekeringan hingga kebanjiran
dari kelaparan hingga keracunan
dari berbagai penyakit hingga diskriminasi di rumah sakit
dari perundingan hingga peperangan

pernah juga tiga kakao menvonis seorang nenek renta
pemuda seks gagal yang gemar menjagal
bocah lugu berbatu mengobral kesembuhan
-kabarnya, kepada para putus asa
syeikh jutawan usia puluhan mempersunting putri usia belasan
para edan memproklamirkan diri sebagai utusan Tuhan

rapat para pejabat atas nama rakyat tapi entah apa yang kami dapat
uang triliunan buat bank sekarat -aku lebih suka menyebutnya kuwalat
mayat keadilan yang terus disayat

ini yang menggemaskan
rentetan opera picisan
cari pasangan jadi bahan guyonan
berisik musik bikin remaja kegirangan
hangat gosip mengasyikan

ribuan roman masa lalu pun masih layak dijadikan pemahaman
maka aku masih akan rajin khusyu' di hadapan
sebab aku masih butuh pelajaran
untuk imajinasiku yang masih saja kehausan


jakarta, nov '09 - jan '11

Tidak ada komentar: